Arif Rahman

Penulis Buku : "Ketika Udara Terjungkir Di Bawah Langit Bumi.

Arif Rahman

Jasa Ghost Writer Professional.

Arif Rahman

Arif Rahman dan yulia Diana.

Tampilkan postingan dengan label Persahabatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persahabatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Maret 2014

Sory Mangkir Lagi

Maaf, ittu kata pertama yang ingin kutulis, mengingat janji yang waktunya telah terlewati. Kau mungkin kesal karena telat itu hal yang sulit ditoleransi. Namun begitulah kawan, ada hal-hal yang membuat kita jadi kurang ajar. Yang sekalipun kita tak ingin, tapi tetap kita lakukan. Sesekali ataupun berulangkali aku atau kamu tentu pernah begitu. Hahaha. Ada yang memberi sakit pun kekesalan yang dipendam. Kita sama-sama tau.
Terkadang ada masa aku rindu kebebasan bereksplorasi yang hari ini utuh terlampiaskan pada kegarangan bertulisan. Kupacu penyelesaian mimpi-mimpi yang tertunda. Kujalankan strategi percepatan untuk hidup mandiri. Cepatnya mungkin bertahun, tapi lamanya tentu berbatas. Dan tetap saja rindu ke masa lalu itu ada. Bukan sebab apa, tapi karena yang pernah kita jalani adalah kenangan, bukan sekedar kesenangan.

Suatu saat aku pasti kembali, tidak hanya menyokong tapi akan terlibat penuh dalam pembangunan dinasti bisnis yang telah tercetak biru dalam mimpi-mimpi kita dulu. Semoga aku tak terlambat.

Senin, 11 Maret 2013

Sahabat


Sederhananya, kondisi sekarang terjadi karna hal yang dulu itu tidak dilakukan lagi. Yang tak bisa kita hindari adalah perubahan. Kenapa? Karena perjalanan waktu yang mengantarkan semuanya. Dengan apa kita isi perjalanan itu, maka itulah hasil yang sampai pada kita. Setiap orang pasti bisa menerima perubahan, selama perubahan itu ke arah yang lebih baik.

Selasa, 05 Februari 2013

Saat Kita Ragu Menempuh Jalan Mimpi

Tulisan ini didedikasikan untuk semua pelajar, pelajar.
Saudara-saudara pelajar, realitanya kita hidup selingkungan dengan masyarakat rasional. Masyarakat dengan harapan yang besar dan nyali yang tak sepadan. Mengukur bayang-bayang saat matahari sejajar dengan ubun-ubun, sehingga mimpi-mimpinya menjadi jenazah sebelum sore datang. Dan kemudian menyesali panjangnya bayang-bayang yang ia temui saat matahari hendak ke peraduan.

Jumat, 05 Oktober 2012

Kataku di facebook

Selama ini kita melalui banyak salah paham untuk lebih mengenal, dan ternyata itu belum cukup membuatku menjadi sosok yang sempurna dengan kebaikan. Karna itulah, kita butuh waktu seumur hidup untuk bisa memahami dan bersikap dengan pemahaman itu. Alasannya selalu kita temukan saat kata spesial menghilang dalam kamus hidup manusia, tapi aku menemukannya dalam bermacam bentuk didirimu dengan jumlah berlipat dari pori yang kau miliki. Seperti halnya engkau dalam keyakinanku. Tidak ada yang slalu buruk...

01 Oktober 2012

Selasa, 14 Agustus 2012

Menyapih Entah I

Adakalanya kemanusiawian kita kesulitan menemukan tempat bercerita, karna dunia dan seisinya seakan bersepakat untuk lebih senang menghakimi daripada memotivasi. Wajar, optimisme menjadi sikap yang semakin langka di usia muda.

Rabu, 01 Agustus 2012

Keikhlasan Semasa

Kita kerap merasa bahwa hal-hal kecil yang pernah kita lakukan merupakan hal-hal yang pantas menerima balas hanya karna hari ini kita membutuhkan kelapangan dari orang yang menerima hal baik dari hal kecil yang pernah kita perbuat itu.

Minggu, 15 April 2012

Kau Bacalah Apa Yang Kutulis IV


Lalu kutuklah kebenaran dengan kebenaran, dan mari bersaksi untuk langkah-langkah goyah yang tidak menghentikan laju pembangkangan. Kadang saling mengenal itu yang membuat kita sangat paham bagaimana harusnya menyakiti. Untung-untung pada esok yang entah bila, hati manusia yang sekepal itu dibungkus sabar yang tak ditetapkan batasnya.

Dari Kakak Kepada Adik-Adiknya


Untuk adik-adik yang menungguku menjadi sarjana.

Dik, kakak minta maaf tidak menjadi sarjana tepat waktu. Maaf jika itu mengurangi kebanggaanmu pada seorang kakak yang kau percaya. Aku baru menyadarinya hari ini dik, saat aku memakai masa menunggu pembimbing yang juga banyak kerja. Aku diserasehan sesal ini teringat padamu dik. Tentang tanyamu yang penuh harap; “kapan kakak wisuda?”.

Senin, 12 Maret 2012

M2S2P

Dik, tak seharusnya kau merasa dunia sedang tak ramah. Disepanjang jalan hidup, pasti ada lobang yang kita bahkan tak sengaja terjang. Tapi bukan berarti hidup sampai disana. Kita tak boleh berhenti sebelum sampai ditujuan. Atau kau memilih untuk pulang dengan menundukkan kepala? Jika demikian, jangan mengaku sebagai adikku.

Senin, 13 Februari 2012

Aku Khawatir

Aku mulai khawatir dengan kelanjutan hubungan ini. Bukan pada lanjut atau tidak, tapi lebih pada kekhawatiran akan bentuk tindak lanjutnya. Aku khawatir akan penjagaanku terhadap hati. Hati itu sendiri seringkali tidak punya sopan santun dalam menetapkan sesuatu, ia seringkali tak permisi.

Selasa, 22 November 2011

Menjadi Lebih Baik


An answer of my beloved sisters question.
Specially write for all people in my life.

Manusia berada dalam ikatan taqdir sebagai makhluk sosial, yang membuatnya memiliki kebutuhan terhadap orang lain. Kebutuhan untuk pengakuan atas keberadaanya. Saya katakan demikian karena kita selalu senang ketika diberi perhatian, merasa tersanjung saat dipuji, dan bangga saat prestasi kita diakui. Saat semua hal tersebut tidak kita peroleh, maka selalu terasa ada yang kurang. Rasanya kurang manusia, heheh.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Refleksi 21 Agustus

Seorang teman pernah berkata: “The awkward moment when people say Happy Birthday to you, and you just stand there clue less”.


Hari ini 21 Agustus lagi untuk tahun yang pernah saya temui. Meski jumlahnya telah lebih dua puluh, tak penuh jari tangan sebelah yang membuatnya maknanya bisa kupahami sebagai hari jadi. Lebih sedikit lagi yang memantaskan momentnya sebagai kenangan manis. Tapi aku telah biasa, hal apapun tergantung persepsi yang memandang (menghibur diri dengan berpikir positif).

Seperti tahun lalu, kali ini 21 Agustus mendapat tempat di bulan ramadhan, yang tuhan janjikan kebaikan berlipat disetiap detiknya. Bedanya, orang-orang baik yang ada disekitarku mungkin tak lagi sama. Bertambah atau berkurang, entahlah. Yang pasti dihatiku wajah lama tak pernah hilang, wajah orang-orang baik.

Dari 21 Agustus pertama (yang kusadari), sampai 21 Agustus hari ini, aku tak pernah menghitung berapa hati yang kusakiti. Tak jua mengkalkulasi perilaku tak baik yang kunikmati (setiap detiknya). Jika saja buku pencatat amal itu halamannya terbatas, mungkin malaikat Atid (yang mencatat amal tak baik) telah seringkali meminta buku tambahan untuk mencatat amalku yang tergolong dosa. Dan jika saja malaikat punya rasa iri, telah tinggi tumpukannya setiapkali melihat Raqid (malaikat pencatat amal tak baik) ongkang-ongkang kaki, yang jangankan meminta tambahan buku, halaman pertama saja mungkin belum penuh. Seandainya saja buku itu diperjual belikan, aku termasuk sebab kenapa penjualnya bisa menjadi orang kaya dalam hal materil.

Berbanding terbalik amaliyahku dengan mereka orang-orang yang tuhan sediakan tempat di syurganya. (Salah satu pengetahuan bahasa yang kuingat dalam menyatakan nama tempat, jika awalan “di” dipisah dari kata sesudahnya berarti tempat itu jauh dari subjeknya. Jarakku memang jauh dari syurga itu sendiri, sangat jauh. Tapi aku ingin ada disana suatu ketika nanti. Sehingga jika mendengar kata kado, aku berdo’a; “semoga 21 Agustus ini Allah SWT memberi kado berupa puasa yang diterima, pahala yang banyak, lailatul qadar yang mulianya setara seribu bulan dalam limpahan ridha Allah SWT serta hidayah bagi setiap umatnya terutama yang berhari jadi dibulan yang mulia ini. Amin yaa rabbal alamiin). Aku berani berdo’a demikian, karna aku percaya pintu ampunan tuhan selalu terbuka karna rahmanNya yang tidak terbatas. Allahuakbar.

(Tulisan ini ditulis bukan untuk mengecilkan apresiasi hari jadi yang disampaikan kepada saya. Saya menulisnya sebagai penghargaan kepada siapa saja yang menganggap hari jadi itu ada.)

NB: Tulisan ini dikirim dari masa lalu, 18 Agustus 2011

Selasa, 26 Juli 2011

Wilayah Otonom Kecilku

Aku kembali berada di wilayah otonom kecilku. Sebuah ruangan tiga kali empat dengan sebuah spanduk berwarna hijau terang dan berlogo PII (Pelajar Islam Indonesia) yang menutupi salah satu sisinya. Ada kilasan merah putih disana. Itu hal pertama yang aku selalu ingin saksikan, setiap kali aku sampai. Dan ia selalu jadi wadah yang cukup sabar menerima kerinduanku. Gambar buku dan penera di lambang itu mempunyai daya inosi yang kuat terhadap keserakahanku membaca, dan mengawal kompetensi keteguhan hatiku dalam menulis.

Di sisi yang berseberangan ada telfon gantung dan tempat bertapa dari sumber wawasan yang mempengaruhi pola pikirku, tentunya setiap ruhaniku selesai minum isinya. Owh, kau ingin sebutannya yang keren? Sebut saja Yakult pikiran, terdengar nikmat dan bergizi. Kau bisa temukan kitab (yang suci dan tak suci), perjuangan, bahasa, sosialisme, komunisme, kebaikan dan keburukan disana. Lebarnya ± 30 cm yang panjangnya sekitar tiga meter dengan ketinggian seratus lima puluh senti meter dari permukaan lantai. Dibawahnya tersedia tempat gantungan dari stainless untuk benda-benda yang kuanggap unik. Sisi itu adalah sisi keramat, tak satupun manusia boleh menyentuhnya tanpa seizinku. Adikku pun tak berani. Begitu juga harusnya kau!

Pada sisi yang sama dengan pintu ada gantungan baju, sebuah alat yang memutus dan meneruskan arus listrik untuk menjadi cahaya, dan sumber setruman untuk membangkitkan alat ketik ini dari masa non-fungsionalnya. Dan ya, disisi itu juga ada tatahan, kufungsikan sebagai tempat aman untuk waktu senggang dompetku, handphone, minuman, dan benda-benda kecil yang sewaktu-waktu kubutuhkan jika hendak melakukan perjalanan. Mulai dari perjalanan fisik yang mempertanyakan energi, boleh juga perjalanan imajinatif menguras imajinasi, dan perjalanan dialektika menembus tesis sintesis dengan perlawanan antitesis untuk mencari sintesis baru dan mendapatkan ide absolut. Atau perjalanan logis dalam sistem sains, “thinking of thinking”.

Sisi terakhir, masih kubiarkan apa adanya. Aku berencana membongkarnya dan menambahkan jendela, sudah kurencanakan sejak lama agar sirkulasi udara bisa mengurangi kepengapan bagi orang-orang selainku yang beruntung mendapat kesempatan untuk ada disini, namun bisa dibilang aku juga yang membuatnya belum terealisasi. Sensorismu akan menjelaskan semua hal tersebut sifatnya atrutik dan tentatif. Jangan khawatir, ia menjelaskan untuk tingkat tertinggi dari pemahamanmu. Jika kau tak percaya, aku akan coba jelaskan.

Yang datang pada kawasan logis akan membuat otakmu melakukan analisa untuk memeriksa kelogisannya. Hal yang berkunjung secara abstrak akan mempekerjakan benakmu guna menemukan kejelasannya. Tapi apapun yang datang melalui perasaan, kau akan selalu merasa tak perlu bertanya. Bahkan saat kau sendiri tak mampu menjelaskan yang kau pahami.

Itu juga sebabnya, jika kau ingin memahamiku, pahami dengan perasaanmu. Karna setiap hal yang bernuansa logis, tidak akan pernah berhenti mencari kesalahan. Jika itu (mencari kesalahan) terjadi, maka insting manusiawi yang disalahkan reflek akan melakukan usaha defensif yang biasanya berupa expository (yang sifatnya membeberkan atau menerangkan). Lalu logisme kembali mengajukan kesalahan untuk direspon sama (seperti yang saya jelaskan) oleh yang menjadi terdakwanya. Sebuah proses panjang untuk bisa berhenti. Dan itu akan membuat kita jauh satu sama lain, menjauhkan antara kau dan aku. Memperlebar spasi antara hatiku dan hatimu. Kalau boleh kasar, izinkan aku mengatakan “sangat tidak sosialisme”.

Pahami dengan perasaan, jika yang kau cari itu “damai untuk semua”.

Wilayah otonomiku punya langit dari triplek berwarna krem kecoklatan, dibawahnya pada bagian sudut yang mempertemukan sisi yang memiliki pintu dan sisi yang ditutupi spanduk, ada kapas yang dikemas dalam kain sepanjang dua meter dan lebar satu meter. Namanya kasur, kalau kau susah menerjemahkan maksudku. Dan diatas kasur ada satu selimut berwarna merah, dua bantal biasa, dan satu bantal guling. Sengaja si kasur kuletakkan di sudut itu, biar aku dekat dekat dengan warna hijau terang yang kusuka. Dan wow, kutemukan kalimatnya, mari memahami seperti pemahamanmu kenapa kau suka warna kesukaanmu. Itu kalimatku, kalau kau pakai maka harus kau sebut namaku sebagai penemunya, heheh.




Minggu, 27 Maret 2011

Persahabatan


Dan jika berkata, berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan?...
Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi. Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dank au panen dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian. Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “tidak” dikalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.
Dan bilamana ia diam, hatimua tiada kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya, karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat dan keinginan terlahirkan bersama sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.
Dikala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita, karena yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya,bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, Nampak lebih agung daripada tanah ngarai daratan.
Dan tiada lain maksud dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, diluar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan, hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu…. Jika ia harus tau musim surutmu, biarlah dia mengenal musim pasangmu. Gerangan apa sahabat itu? Hingga kau senantiasa mencarinya, untuk sekedar bersama dalam membunuh waktu???...
Carilah ia u/ bersama menghidupkan sang waktu!!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu…
Dan dalam manisnya persahabatan, biarlah ada taw aria berbagi kebahagiaan…
Karena dalam titik” kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan…

Jumat, 07 Januari 2011

Tulisan Tak Sempurna (Untuk Sahabat)


Sobat…

Pelangi hari ini tak akan pernah sama dengan hari kemaren. Lewat cercahan warna-warna yang tabu, juga lewat bulir mutiara-mutiara cair dari permadani awan, kutiupkan sumpah persahabatan. Saling berbagi, saling tolong, dan saling bernuansa.

Lewat selimut panas matahari kusenandungkan sekelumit harapan diatas jiwa-jiwa yang gersang, kulantunkan jua detak-detak mesiu rindu yang semakin lama semakin rancu. Hingga tak pernah ada yang tau kita tlah kembali pada titik awal berdiri, gamang. Rapuh, mungkin pula tumbang atau ditumbangkan.

Kembali lagi. Dan sudah pasti kembali pada pelampiasan terakhir, airmata! Pengembalian ini takkan nikmat tanpa sedu-sedan yang menghabiskan hari, membantai naluri, berlanjut pada penyembelihan hati. Jadilah kita manusia-manusia beraga karang tapi berjiwa angin. Ingin kusampaikan kata kasihan. Sayang, aku sangat benci manusia seperti ini.

Sahabat…

Lewat hari yang akan kita lewati, bangkitkan dunia baru yang ungu, penuh harapan, tanpa putus asa! Berjuang diantara kerikil dan gunung karang dunia, berontak pada jiwa-jiwa diktator. Kukatakan ini, karena kuyakin kau mampu…

(Tulisan ini belum selesai, tapi sungguh, saya menikmati keluguan saya didalamnya)