Arif Rahman

Penulis Buku : "Ketika Udara Terjungkir Di Bawah Langit Bumi.

Arif Rahman

Jasa Ghost Writer Professional.

Arif Rahman

Arif Rahman dan yulia Diana.

Tampilkan postingan dengan label Wirausaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wirausaha. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 September 2014

Digantinya PSAK 44 dengan ISAK No 21

22 May 2014 | 13:08   

Seiring dengan rencana pencabutan PSAK 44, DSAK-IAI pada tanggal 12 Oktober 2010 juga mengesahkan penerbitan ED ISAK No. 21 : Perjanjian Konstruksi Real Estat yang merupakan adopsi dari IFRIC 15, Agreements for the Construction of Real Estate.
Dengan dicabutnya PSAK 44, maka selanjutnya pengaturan akuntansi aktivitas pengembangan real estat akan diatur melalui ISAK No. 21 yang berlaku efektif tanggal 1 Januari 2012.
ISAK 21 diterapkan untuk akuntansi pendapatan dan beban terkait oleh perusahaan yang melakukan konstruksi real estat baik secara langsung atau melalui subkontraktor.  Pengaturan untuk pengakuan pendapatan dari perjanjian konstruksi real estat dalam ED ISAK 21 berbeda secara sangat signifikan dengan pengaturan dalam SAK sebelumnya yang dijadikan acuan, yaitu PSAK 44.
Pada dasarnya, ISAK 21 membahas dua permasalahan berkaitan dengan konstruksi real estat, yaitu :
  1. Masalah pengakuan pendapatan aktivitas dalam suatu perjanjian konstruksi real estat apakah harus mengacu pada PSAK 34 (revisi 2010) : Kontrak Konstruksi dalam hal pembeli dapat menentukan elemen struktural utama desain real estat, atau mengacu pada penjualan barang sesuai PSAK 23 (revisi 2010) : Pendapatan yaitu dalam hal pembeli memiliki kemampuan terbatas untuk mempengaruhi desain real estat atau hanya menentukan perubahan kecil atas desain awal.

  2. Kapan pengakuan pendapatan dari konstruksi real estat
Perubahan kebijakan akuntansi yang timbul akibat penerapan ISAK 21 ini harus diterapkan secara retrospektif (mengacu ke belakang dengan menggunakan data untuk melihat apakah ada hubungan atau tidak antara permasalahan dan factor resiko yang terdapat pada yang bermasalah) sesuai dengan PSAK 25 (revisi 2009) tentang Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi dan Kesalahan.


Senin, 04 Agustus 2014

Kreativitas dan Inovasi, Kran Percepatan Bisnis

Banyak pengusaha terjebak dalam pemahaman mengenai spesialisasi terkait kinerja karyawannya. Pemahaman demikian seringkali berakibat pada control yang bersifat mengungkung karyawan dalam proses melakukan suatu aktivitas kerja. Control yang melahirkan anggapan negative dari karyawan selaku pihak yang dikontrol tentunya akan mengurangi kenyamanan kerja sehingga berdampak pada kenyamanan lingkungan kantor.
Mendefinisikan masalah di wilayah spesial hanya akan membatasi kemampuan untuk bisa melihat bagaimana semua itu bisa saling berkaitan. Para pemikir yang kreatif akan cenderung melihat ide-ide di luar wilayah kekhususan. Memberi ruang berinovasi dan berkreativitas sebebas-bebasnya dalam ruang lingkup positif sehingga kemudian orientasi akhir ada pada hasil merupakan kebijakan yang lebih membangun dibanding control berbentuk kungkungan.
Namun kretivitas dan inovasi yang dimaksud tidak hanya bagi karyawan saja melainkan juga diberlakukan untuk pemilik usaha dalam menjalankan usahanya. Kombinasi kreativitas antara pemberi kerja dan penerima kerja ini tentunya akan berdampak positif bagi jalannya usaha.
Seringkali lambatnya jalan suatu usaha terkait pada proses yang dilakukan dalam mewujudkan orientasi hasil yang diharapkan. Sebuah proses mestinya dibentuk sedemikian rupa agar tercipta kondisi yang memberikan kenyamanan dalam menjalankan aktivitas. Kenyamanan kerja tentunya akan membantu semua pihak yang terlibat untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam beraktivitas.

Sabtu, 05 Juli 2014

Saat Pertumbuhan Laba Melambat



Dalam menjalankan usaha, salah satu cara efektif mengetahui pertumbuhan laba perusahaan adalah dengan memperbandingkan laba periode terakhir dengan laba periode sebelumnya. Hal itu diperlukan untuk mengetahui apakah laba periode terakhir itu meningkat dari periode sebelumnya. Atau bisa jadi menurun dari laba periode sebelumnya.

Dari hasil perbandingan tersebut nantinya dapat diketahui apakah pertumbuhan laba periode terakhir itu lebih cepat ataukan melambat dibanding periode sebelumnya.

Untuk pengukuran laba itu tentunya didapat dari pembacaan terhadap laporan keuangan. Jabaran yang tertera dari laporan keuangan Anda, akan menyampaikan secara gamblang dibagian mana terjadi selisih yang cukup signifikan. Antara periode terakhir dan periode sebelumnya.

Kejelasan posisi selisih itulah yang akan dipelajari dan dievaluasi, agar pada periode berikutnya hal yang sama tidak terjadi kembali. Penelusuran terhadap penurunan dan pembengkakan biaya (laba/rugi) yang diawali dari pembacaan neraca, akan menunjukkan turunan berikutnya yang lebih terperinci. Sehingga akan sangat jelas pada bagian mana yang harus diberikan perhatian khusus.

Karena itulah, sistem keuangan yang Anda gunakan sebaiknya memiliki kemampuan menyajikan posisi keuangan yang terupdate per transaksi agar melambatnya pertumbuhan laba bisa dideteksi lebih cepat. Hal itu memungkinkan Anda untuk melakukan langka-langkah antisipasi agar grafik laba kembali berada pada level yang diharapkan.