Arif Rahman

Penulis Buku : "Ketika Udara Terjungkir Di Bawah Langit Bumi.

Arif Rahman

Jasa Ghost Writer Professional.

Arif Rahman

Arif Rahman dan yulia Diana.

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 September 2014

Digantinya PSAK 44 dengan ISAK No 21

22 May 2014 | 13:08   

Seiring dengan rencana pencabutan PSAK 44, DSAK-IAI pada tanggal 12 Oktober 2010 juga mengesahkan penerbitan ED ISAK No. 21 : Perjanjian Konstruksi Real Estat yang merupakan adopsi dari IFRIC 15, Agreements for the Construction of Real Estate.
Dengan dicabutnya PSAK 44, maka selanjutnya pengaturan akuntansi aktivitas pengembangan real estat akan diatur melalui ISAK No. 21 yang berlaku efektif tanggal 1 Januari 2012.
ISAK 21 diterapkan untuk akuntansi pendapatan dan beban terkait oleh perusahaan yang melakukan konstruksi real estat baik secara langsung atau melalui subkontraktor.  Pengaturan untuk pengakuan pendapatan dari perjanjian konstruksi real estat dalam ED ISAK 21 berbeda secara sangat signifikan dengan pengaturan dalam SAK sebelumnya yang dijadikan acuan, yaitu PSAK 44.
Pada dasarnya, ISAK 21 membahas dua permasalahan berkaitan dengan konstruksi real estat, yaitu :
  1. Masalah pengakuan pendapatan aktivitas dalam suatu perjanjian konstruksi real estat apakah harus mengacu pada PSAK 34 (revisi 2010) : Kontrak Konstruksi dalam hal pembeli dapat menentukan elemen struktural utama desain real estat, atau mengacu pada penjualan barang sesuai PSAK 23 (revisi 2010) : Pendapatan yaitu dalam hal pembeli memiliki kemampuan terbatas untuk mempengaruhi desain real estat atau hanya menentukan perubahan kecil atas desain awal.

  2. Kapan pengakuan pendapatan dari konstruksi real estat
Perubahan kebijakan akuntansi yang timbul akibat penerapan ISAK 21 ini harus diterapkan secara retrospektif (mengacu ke belakang dengan menggunakan data untuk melihat apakah ada hubungan atau tidak antara permasalahan dan factor resiko yang terdapat pada yang bermasalah) sesuai dengan PSAK 25 (revisi 2009) tentang Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi dan Kesalahan.


Selasa, 03 Juni 2014

Memacu Semangat Pewirausaha

Tela’ah Awal Solusi Persoalan UMKM

Perubahan iklim bisnis kepada era yang disebut globalisasi adalah malapetaka yang akan datang pada keberlanjutan usaha kecil dan menengah. Jika suatu bidang usaha tetap ngotot menjadi peserta dari kejamnya persaingan pasar maka tidak ada pilihan selain berada di garda depan adaptasi sistem akuntansi.

Usaha kecil menengah merupakan sektor usaha yang memiliki peran cukup tinggi dalam perekonomian daerah, terutama dalam penyediaan lapangan kerja. Dengan jumlah UMKM mencapai 56,5 Juta sebagaimana data Kementerian Koperasi dan UKM Indonesia, UMKM di Indonesia menyumbang lebih dari 90% pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Namun demikian jika diteropong dari berbagai sudut pandang, sisi perkembangan usaha kecil menengah akhir-akhir ini cukup memprihatinkan terlebih dengan masuknya berbagai produk impor yang merupakan hasil usaha menengah luar negeri. Belum lagi menjamurnya pasar modern yang menyedot konsumen dari usaha kecil menengah masyarakat lokal. Kondisi demikian akan memperlemah posisi sektor usaha kecil di pasar  Indonesia.

Semakin melemahnya posisi sektor usaha kecil di pasar, dalam jangka panjang akan berdampak pada turunnya taraf hidup masyarakat serta bertambahnya pengangguran. Oleh karenanya diperlukan upaya-upaya yang mengarah pada pengembangan sektor usaha kecil dalam rangka memperbaiki mutu produk  atau jasa sehingga mampu bersaing di pasar global. Menurut Thomas W dan Norman M dalam bukunya ‘ Pengantar Kewirausahaan dan Manajemen  Bisnis Kecil “, sebab-sebab kegagalan bisnis  diantaranya adalah Ketidakmampuan Manajemen. Sedangkan dalam upaya untuk memperbaiki mutu produk diperlukan pengelolaan usaha (manajemen) yang baik, meliputi  aspek permodalan, produksi, pemasaran, sumber daya manusia, dan pembukuan.

Disisi lain, meredupnya jumlah konsumen memang berafiliasi erat dengan perubahan dan persaingan kualitas produk, namun lebih dari itu, seperti halnya orang  lomba lari, jika dilintasan ia tak berlari cukup cepat maka wajarnya ia akan tertinggal. Lebih menggenaskan lagi jika kemudian hal itu bisa saja membuat kita dilindas peserta yang start belakangan. Menurut hemat penulis selama ini pengusaha kecil dan menengah cenderung “mengalah” pada pesaing. Nama global yang dibawa pesaing tidak memacu semangat pewirausaha untuk memadankan usahanya dengan pesaing yang mengusung produk serupa tetapi justru mematahkan semangat juang usaha dengan alasan terkendala pada berbagai hal terutama dalam aspek-aspek yang disebutkan diatas. Karenanya, perlu pembaharuan cara pandang dari pelaku usaha agar penyaduran usaha yang dilakukan sesuai kebutuhan pasar global.

Aspek permodalan  menjadi kendala umum pengusaha kita, namun sebenarnya kendala modal akan teratasi dengan sendirinya jika aspek pembukuan/sistem keuangan perusahaan tersusun rapi sesuai Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik atau yang lebih dikenal dengan sebutan SAK ETAP. SAK ETAP ini ditetapkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia untuk perusahaan kecil dan menengah yang dimaksudkan agar semua unit usaha menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Standar ETAP ini cukup sederhana dan tentu tidak akan menyulitkan bagi penggunanya. Pembukuan yang sesuai dengan standar akuntansi keuangan tersebut nantinya akan mempermudah pengusaha kecil mendapatkan dana segar pihak ketiga atau investor karena syarat layak mendapatkan pinjaman adalah laporan keuangan terstandar. Seiring dengan teratasinya kendala modal tersebut, kendala pemasaran dan sumberdaya yang sesuai akan bisa diambil jasanya sejalan dengan perwujudan perubahan kualitas dan kuantitas produksi. Semisal peningkatan perwajahan produk dan kemasan jual.

Pemerintah sebagai tempat mengadu rakyat memiliki peran vital dalam mengembangkan jiwa entrepreneurship bagi yang mau berupaya memajukan usahanya. Peran vital tersebut memperjelas pentingnya perbaikan pengelolaan usaha dengan segala aspeknya sebagai langkah awal membangun kemandirian ekonomi. Peran vital itu juga yang memperwajar kenapa pesta demokrasi digadang-gadang sebagai pesta rakyat, perubahan pemegang tampuk kepentingan rakyat juga diembankan harapan untuk melukar kendala usaha rakyat.

Kebijakan pro rakyat juga harus memperluas akses pasar dan akses informasi usaha rakyat yang hari ini masih terbatas. Harapan tersebut bisa diwujudkan melalui kebijakan strategis yang tegas berbentuk dukungan aplikatif dan membumi. Pendampingan dari Klinik UKM ataupun jasa pendampingan dari Klinik/lembaga yang memfokuskan diri dalam kegiatan serupa dalam rangka membantu pemerintah memacu perkembangan ekonomi melalui sektor UKM juga patut diapresiasi keberadaannya. Sehingga tercipta kerjasama percepatan pembangunan ekonomi rakyat berbasis semangat korsa.

Pengembangan usaha kecil dan menengah sebagai bentuk peningkatan kualitas ekonomi rakyat, jelas menjadi tanggungjawab pemerintah. Menjadikan pengembangan usaha kecil dan menengah sebagai salah satu fokus pemerintah tidak hanya merupakan kebijakan pro rakyat yang nantinya akan bermetamorfosis menjadi asset utama daerah jika diberikan pendampingan berkelanjutan. Namun ditingkat lebih lanjut akan membentuk emperial usaha bangsa karena juga berfungsi sebagai pondasi kemandirian ekonomi nasional.

Kita berharap pertemuan yang diinisiasi Kementrian Koperasi dan UKM pada Juli 2013 lalu yang menginisiasi pendampingan usaha kecil dan menengah nasional dengan kombinasi tujuh sub program diantaranya pemagangan nasional, gerakan kewirausahaan nasional, pengembangan kurikulum pendidikan kewirausahaan, pemberdayaan konsultan pendamping UKM, pembinaan organisasi, jaringan konsultan bisnis UKM, dan terakhir adalah revitalisasi klinik UKM, tidak hanya sekedar menjadi program seremonial karena harus diwujudkan secara nyata sampai ke daerah sehingga benar-benar menjadi program penyejahteraan rakyat.

Pada akhirnya program yang “jangan sampai harus dalam jangka panjang” mewujudkan bangsa yang berdikari secara ekonomi sebagaimana diserukan oleh Bung Karno dalam Tri Sakti akan bisa dicapai.

Minggu, 28 April 2013

Minangkabau, Rantau Garis Keras


Karakok madang dihulu, babuah babungo balun. 
Marantau bujang dahulu, dirumah paguno balun.

Siapa putra Minang yang tak pernah dengar pantun ini?

Pantun yang mengikonkan bahwa masyarakat muda Minang adalah bagian dari perantau sebagai sebuah mesti. Dan pantun itulah alasan penyelamat dari kerasnya ranah Minang dalam membangun karakter pemudanya. Dan Kau bujang, bersyukurlah jika tlah melangkah keluar rumah.

Senin, 04 Juni 2012

Kenapa Saya Bersepakat Dengan Sartre

Yang akan terjadi pada pohon dan burung beo sebelum eksistensinya jelas dapat diketahui, tetapi manusia adalah wujud pertama yang serba belum jelas: Ia akan berupa apa? Ia akan menjadi apa? Apa yang akan diperbuat terhadap dirinya? Apa yang akan dipilih sebagai esensinya?
-Sartre-

Minggu, 22 April 2012

Menisik Jejak Pemimpin


Kita belum membutuhkan pemimpin yang mampu menampung semua aspirasi, namun kita benar-benar memerlukan pemimpin yang paham akan apa yang kita butuhkan; eksistensi, itulah kebutuhan kita !

Selasa, 22 November 2011

Tidak Ada Nurani Dalam Setiap Prasangka Buruk


”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), sesungguhnya sebagian dari prasangka adalah dosa..” (QS. Al-Hujurat : 12) 

Kita akan berbicara tentang penyakit kambuhan yang dimiliki setiap manusia, penyakit yang kalaupun kita sadari namun seringkali kita tak mencegah keakutannya. Dan kesalahan itu manusiawi untuk kita yang tak begitu peduli pada dosa, seteru dan hati yang luka. Penyakit yang kugambarkan dengan nama “prasangka buruk”.

Sebuah Tanggapan Atas Statemen Achmad Munif

Seorang kawan, Muhammad Farid Alfarisi menulis dalam statusnya di salah satu jejaring sosial: "dua orang mahasiswa yang bertengkar karena memperebutkan seorang gadis adalah sebuah kebodohan, karena itu tidak ilmiah (Achmad Munif)".

Minggu, 06 November 2011

Dialog Tentang Status Kerapuhan Manusia


Status dan komentar facebook yang di upgrade menjadi catatan ini bukan karena / untuk sesuatu yang berkorelasi dengan  ketidakbaikan. Semoga Catatan ini memberi kebaikan bagi yang membacanya.

Status: Pada dasarnya semua orang itu rapuh...oleh karena itu kita butuh saling menguatkan untuk mengatasi kerapuhan...
( Status ini mendapat like dari lima orang.)

Selasa, 26 Juli 2011

Wilayah Otonom Kecilku

Aku kembali berada di wilayah otonom kecilku. Sebuah ruangan tiga kali empat dengan sebuah spanduk berwarna hijau terang dan berlogo PII (Pelajar Islam Indonesia) yang menutupi salah satu sisinya. Ada kilasan merah putih disana. Itu hal pertama yang aku selalu ingin saksikan, setiap kali aku sampai. Dan ia selalu jadi wadah yang cukup sabar menerima kerinduanku. Gambar buku dan penera di lambang itu mempunyai daya inosi yang kuat terhadap keserakahanku membaca, dan mengawal kompetensi keteguhan hatiku dalam menulis.

Di sisi yang berseberangan ada telfon gantung dan tempat bertapa dari sumber wawasan yang mempengaruhi pola pikirku, tentunya setiap ruhaniku selesai minum isinya. Owh, kau ingin sebutannya yang keren? Sebut saja Yakult pikiran, terdengar nikmat dan bergizi. Kau bisa temukan kitab (yang suci dan tak suci), perjuangan, bahasa, sosialisme, komunisme, kebaikan dan keburukan disana. Lebarnya ± 30 cm yang panjangnya sekitar tiga meter dengan ketinggian seratus lima puluh senti meter dari permukaan lantai. Dibawahnya tersedia tempat gantungan dari stainless untuk benda-benda yang kuanggap unik. Sisi itu adalah sisi keramat, tak satupun manusia boleh menyentuhnya tanpa seizinku. Adikku pun tak berani. Begitu juga harusnya kau!

Pada sisi yang sama dengan pintu ada gantungan baju, sebuah alat yang memutus dan meneruskan arus listrik untuk menjadi cahaya, dan sumber setruman untuk membangkitkan alat ketik ini dari masa non-fungsionalnya. Dan ya, disisi itu juga ada tatahan, kufungsikan sebagai tempat aman untuk waktu senggang dompetku, handphone, minuman, dan benda-benda kecil yang sewaktu-waktu kubutuhkan jika hendak melakukan perjalanan. Mulai dari perjalanan fisik yang mempertanyakan energi, boleh juga perjalanan imajinatif menguras imajinasi, dan perjalanan dialektika menembus tesis sintesis dengan perlawanan antitesis untuk mencari sintesis baru dan mendapatkan ide absolut. Atau perjalanan logis dalam sistem sains, “thinking of thinking”.

Sisi terakhir, masih kubiarkan apa adanya. Aku berencana membongkarnya dan menambahkan jendela, sudah kurencanakan sejak lama agar sirkulasi udara bisa mengurangi kepengapan bagi orang-orang selainku yang beruntung mendapat kesempatan untuk ada disini, namun bisa dibilang aku juga yang membuatnya belum terealisasi. Sensorismu akan menjelaskan semua hal tersebut sifatnya atrutik dan tentatif. Jangan khawatir, ia menjelaskan untuk tingkat tertinggi dari pemahamanmu. Jika kau tak percaya, aku akan coba jelaskan.

Yang datang pada kawasan logis akan membuat otakmu melakukan analisa untuk memeriksa kelogisannya. Hal yang berkunjung secara abstrak akan mempekerjakan benakmu guna menemukan kejelasannya. Tapi apapun yang datang melalui perasaan, kau akan selalu merasa tak perlu bertanya. Bahkan saat kau sendiri tak mampu menjelaskan yang kau pahami.

Itu juga sebabnya, jika kau ingin memahamiku, pahami dengan perasaanmu. Karna setiap hal yang bernuansa logis, tidak akan pernah berhenti mencari kesalahan. Jika itu (mencari kesalahan) terjadi, maka insting manusiawi yang disalahkan reflek akan melakukan usaha defensif yang biasanya berupa expository (yang sifatnya membeberkan atau menerangkan). Lalu logisme kembali mengajukan kesalahan untuk direspon sama (seperti yang saya jelaskan) oleh yang menjadi terdakwanya. Sebuah proses panjang untuk bisa berhenti. Dan itu akan membuat kita jauh satu sama lain, menjauhkan antara kau dan aku. Memperlebar spasi antara hatiku dan hatimu. Kalau boleh kasar, izinkan aku mengatakan “sangat tidak sosialisme”.

Pahami dengan perasaan, jika yang kau cari itu “damai untuk semua”.

Wilayah otonomiku punya langit dari triplek berwarna krem kecoklatan, dibawahnya pada bagian sudut yang mempertemukan sisi yang memiliki pintu dan sisi yang ditutupi spanduk, ada kapas yang dikemas dalam kain sepanjang dua meter dan lebar satu meter. Namanya kasur, kalau kau susah menerjemahkan maksudku. Dan diatas kasur ada satu selimut berwarna merah, dua bantal biasa, dan satu bantal guling. Sengaja si kasur kuletakkan di sudut itu, biar aku dekat dekat dengan warna hijau terang yang kusuka. Dan wow, kutemukan kalimatnya, mari memahami seperti pemahamanmu kenapa kau suka warna kesukaanmu. Itu kalimatku, kalau kau pakai maka harus kau sebut namaku sebagai penemunya, heheh.




Jumat, 10 Juni 2011

Perubahan Itu Bukan Sekedar Mimpi Kawan!!

Salah satu sebab stagnantnya perkembangan masyarakat kita, khususnya di Kabupaten Lima Puluh Kota, adalah kurangnya pembenahan, pemberdayaan dan penyaluran potensi pribadi masing-masing kita. Kecenderungan individu yang masih berorientasi akan pemenuhan kebutuhan perut dan menghabiskan apa yang ada membuat kita tidak berani ambil resiko untuk memilih aktivitas yang berimplikasi baik untuk orang banyak. Kita sudah merasa nyaman ketika telah mempunyai sumber pemenuhan kebutuhan pribadi, paling banter keluarga, yang jika ditilik lebih lanjut hal ini tak ubah dari keegoisan di tingkat elitnya. Dikatakan demikian karena kondisi seperti yang saya jabarkan diatas membuat falsafah Minang "barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang" (berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. red) tidak teraplikasi sepenuhnya. Padahal mestinya, ketika falsafah ini teraplikasi utuh, kita masyarakat Luhak Limo Puluah hidup dengan alat pemenuhan kebutuhan yang berlimpah. (Berlaku juga untuk semua Kabupaten/Kota di Indonesia dan dimana saja).

Falsafah tersebut layaknya memicu "raso jo pareso kita akan eksistensi kondisi sosial sekitar kita. Dan ketika falsafah "barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang" ini diabaikan baik secara makna apalagi aplikasinya, maka wajar ketika ada anak usia sekolah yang jadi pengamen dijalanan, ada orang tua yang masih tinggal di kolong jembatan ataupun mencari ruang berbaring di emperan, ada anggota masyarakat yang sengaja melanggar hukum untuk memenuhi kebutuhan pangan-kesehatan. Mesti kita akui, ketidakpedulian kita berkontribusi pada terciptanya kondisi-kondisi yang kita temui diatas.

Hal lain yang tak kalah penting, yang juga menjadi kontribusi nyata kita atas belum adanya perbaikan kondisi masyarakat, adalah "budaya menunggu". Kita menunggu kapan kesempatan itu datang, menunggu kapan pekerjaan itu datang, menunggu kapan ada orang lain yang memberikan perubahan, menunggu mimpi jadi kenyataan. Padahal manusia diberikan kompetensi sama untuk semua yang kita tunggu itu. Kesempatan itu harus kita ciptakan!! Setiap kita bisa mengadakan lapangan pekerjaan untuk diri kita dan orang lain, setiap kita mampu mengkondisikan keadaan sesuai kebutuhan, setiap kita berdaya melakukan perubahan!! Persoalannya maukah kita? Dan apa yang kita lakukan untuk apa yang kita mau itu.

Melalui tulisan ini, saya menghimbau, mari kita lakukan perubahan!! Mulai dari diri kita pribadi. Mulai dari memanajemen sikap kritis kita terhadap apa yang dilakukan orang lain, sementara kita tidak melakukan apa-apa. Mulai dengan membarakan rasa dan sikap kekeluargaan sebagai unsur penting dari budaya Timur umumnya dan Minang khususnya, sebagai pondasi dasar kepedulian atas sesama sekaligus sebagai kekuatan kita berbangsa dalam menciptakan perubahan. Saya percaya, jika hal ini kita lakukan secara berjama'ah, maka tidak ada omong kosong untuk perubahan.

Saya sampaikan ini untuk memprovokasi kita semua mengejar apa yang saat ini seharusnya sudah dalam genggaman kita. Salam Perubahan!!

Sabtu, 23 April 2011

Alay

(Tulisan ini adalah "Pelunasan Hutang" kepada teman-teman PII Gimana Gituu ^_^  -  semoga bermanfaat) 

Definisi Alay
Koentjara Ningrat:
“Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya (baca: Pengguna internet sejati,kayak blogger dan kaskuser). Diharapkan Sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar”
Selo Soemaridjan:
“Alay adalah perilaku remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat diantara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron), dan musisi dengan dandanan seperti itu.”
Tapi seiring perkembangan zaman, alay sering diidentifikasikan menjadi narsis, fotogenic, sok gaul, emo, dan lain-lain. Secara garis besar, mungkin karena salah pergaulan

SEBENARNYA APA ITU ALAY?
Alay adalah singkatan dari Anak layangan, Alah lebay, Anak Layu, atau Anak keLayapan yang menghubungkannya dengan anak JARPUL (Jarang Pulang). Tapi yang paling santer adalah anak layangan. Dominannya, istilah ini untuk menggambarkan anak yg sok keren, secara fashion, karya (musik) maupun kelakuan secara umum. Konon asal usulnya, alay diartikan "anak kampung", karena anak kampung yang rata-rata berambut merah dan berkulit sawo gelap karena kebanyakan main layangan.

Jumat, 07 Januari 2011

Tulisan Tak Sempurna (Untuk Sahabat)


Sobat…

Pelangi hari ini tak akan pernah sama dengan hari kemaren. Lewat cercahan warna-warna yang tabu, juga lewat bulir mutiara-mutiara cair dari permadani awan, kutiupkan sumpah persahabatan. Saling berbagi, saling tolong, dan saling bernuansa.

Lewat selimut panas matahari kusenandungkan sekelumit harapan diatas jiwa-jiwa yang gersang, kulantunkan jua detak-detak mesiu rindu yang semakin lama semakin rancu. Hingga tak pernah ada yang tau kita tlah kembali pada titik awal berdiri, gamang. Rapuh, mungkin pula tumbang atau ditumbangkan.

Kembali lagi. Dan sudah pasti kembali pada pelampiasan terakhir, airmata! Pengembalian ini takkan nikmat tanpa sedu-sedan yang menghabiskan hari, membantai naluri, berlanjut pada penyembelihan hati. Jadilah kita manusia-manusia beraga karang tapi berjiwa angin. Ingin kusampaikan kata kasihan. Sayang, aku sangat benci manusia seperti ini.

Sahabat…

Lewat hari yang akan kita lewati, bangkitkan dunia baru yang ungu, penuh harapan, tanpa putus asa! Berjuang diantara kerikil dan gunung karang dunia, berontak pada jiwa-jiwa diktator. Kukatakan ini, karena kuyakin kau mampu…

(Tulisan ini belum selesai, tapi sungguh, saya menikmati keluguan saya didalamnya)


Selasa, 04 Januari 2011

Berfikir Abnormal Memandang Dinamika Pergerakan Mahasiswa

“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…”
Soe Hok Gie, Zaman Peralihan

Secara umum, abnormalitas dapat kita pahami sebagai sesuatu diluar kebiasaan/kewajaran umum. Aktivitas yang menyimpang dari kebenaran yang terlembagakan oleh wacana kebudayaan formal.

Eksistensi mahasiswa dan keharusan melakukan pergerakan
Berbicara tentang dunia pergerakan mahasiswa kita mesti berada di titik nol, dimana kita memandang realita apa adanya, bukan memandang dengan idealnya. Jika tidak, maka . kesadaran, sesuatu yang seharusnya berkedaulatan penuh, terampas secara tidak sadar melalui apa yang disebut Faucault, kuasa pengetahuan.

Titik tolak suatu perubahan khususnya bagi para agen of change tak lepas dari kesadaran diri baik secara individu maupun kelompok. Hal ini mengacu pada tujuan life adjustment curriculum yang menitikberatkan pada pengembangan kepribadian dan kegunaan social dari apa yang dipelajari.

Setiap pergerakan baru bisa berjalan sebagaimana mestinya ketika sebuah pergerakan itu mempunyai wadah yang mampu memfasilitasi pergerakan itu sendiri. Baik dalam hal arah pergerakan, tujuan, style pergerakan dan lain sebagainya. Tentu saja, wadah tersebut mestilah sesuai dengan pergerakan itu sendiri. Semisal; organisasi intra kampus mewakili kebutuhan pergerakan kumpulan individu yang ada didalamnya, contoh BEM/DEMA. Sedangkan organisasi ekstra kampus mewakili kebutuhan yang pergerakan kumpulan individu yang tergabung didalamnya, sesuai dengan arah dan tujuan masing-masing organisasi tersebut.

Sebagai mahasiswa yang berada di sebuah kampus (STAIN Batusangkar), maka BEM yang di waktu yang akan datang disebut DEMA merupakan salah satu sarana pergerakan mahasiswa, berikut dengan lembaga kemahasiswaan dibawahnya. Dikatakan demikian karena setiap individu yang terikat dengan sebutan sebagai mahasiswa, otomatis telah terikat dengan Tri Darma Perguruan Tinggi. Jelasnya, poin pengabdian masyarakat merupakan dalil mahasiswa dalam melakukan pergerakan. Dan pergerakan mahasiswa tentunya berwadah lembaga kemahasiswaan, sebagaimana saya sampaikan diatas, yaitu BEM/DEMA beserta lembaga kemahasiswaan dibawahnya.

Persoalannya sekarang adalah, apakah lembaga kemahasiswaan, khususnya di STAIN Batusangkar ini sudah menjadi wadah merumuskan pergerakan? Saya memandang, dunia pergerakan di STAIN Batusangkar ini mengalami kemunduran intelektual dan ideology pergerakan. Kita tidak memiliki budaya yang semestinya dimiliki mahasiswa. Kita tak rajin baca, diskusi, apalagi aksi. Kita tidak memperdulikan fitrah mahasiswa yang mempunyai fitrah pergerakan. BEM sendiri tidak mampu eksis sebagai sarananya, program apa yang telah dijalankan BEM yang mampu menyaingi program HMPS? Selain jalan-jalannya tentu saja. BEM telah mengerdilkan dirinya sendiri. Orang minangkabau bilang; nafsu kuek, tanago kurang (nafsu besar, tenaga kurang. red). Ingin menjadi pemimpin tapi tak mampu merefleksikan amanah kepemimpinan.

Perjalanan hidup mahasiswa itu hari ini mengalami fenomena yang sangat krusial. Ketika menulis ini, saya menyaksikan sebagian besar generasi mendatang negeri ini (khususnya pelajar dan mahasiswa) hidup dalam kondisi yang problematis. Sebelum melayangkan pandangan jauh, kepedulian apa yang kita miliki selain dari apa yang berhubungan dengan diri kita sendiri?  Dan tanpa harus datang ke lokasi kejadian, kita sudah cukup percaya dengan berbagai tragisme dalam kehidupan mereka, narkoba, tawuran, dan seterusnya. Dalam realita, mereka adalah pelaku! Bukan sekedar korban. Kenyataan yang tidak memberi peluang kepada kita untuk berkata bahwa bangsa ini merupakan masyarakat yang luhur, sopan, ramah dan bermartabat.

Hari ini kekuatan menjadi sesuatu yang dikultuskan. Tentu saja pemikiran demikian memberikan motivasi, baik bagi individu maupun kelompok. Motivasi ini membuat individu maupun kelompok yang memilikinya melakukan banyak usaha untuk mencapai goal dari desirenya. Hal yang tidak kalah penting untuk mengimbangi efek motivasi tersebut adalah kesiapan menjalani efek itu sendiri. Dalam hal ini kemampuan meletakkan sesuatu pada tempatnya, saya sebut dengan kromosom adjustment, menyelesaikan apa yang akan terjadi kedepannya. Karena kharisma tidak cukup untuk menjamin segala sesuatu yang seseorang lakukan adalah lebih baik. Berani saya katakan demikian, karena kemampuan itulah yang membuat segala sesuatu berfungsi dengan baik. Untuk BEM atau DEMA sekalipun.

Kondisinya di STAIN Batusangkar hari ini kita tidak menemukan hal yang demikian. Saya khawatir, hal ini akan memicu degradasi kepemimpinan, kualitas, dan eksistensi mahasiswa kedepannya di STAIN Batusangkar ini, mengingat kondisi lembaga kemahasiswaan yang telah saya sampaikan diatas. Untuk itu harus ada yang berubah, setiap kita berpotensi jadi orang besar, maka berhentilah mengerdilkan diri kita sendiri.

Saya bersama saudara Rezi Maswar pernah melakukan sebuah penelitian berjudul Pandangan Masyarakat Terhadap Prilaku Mahasiswa STAIN Batusangkar pada tahun 2010 lalu. Dalam penelitian tersebut pada bagian Pandangan Masyarakat Terhadap Perilaku Hubungan Sosial Mahasiswa STAIN Batusangkar yang terdiri dari tiga poin, dua poin diantaranya dinilai sangat buruk dengan persentase diatas 60%, bahkan mencapai 90%. Tepatnya untuk poin keterlibatan mahasiswa STAIN Batusangkar dalam kegiatan masyarakat dan hubungan antara mahasiswa dengan sesame teman kos, pemilik kos, dan tetangga.

Dengan gambaran sebagaimana diatas, wajar kiranya jika ada statemen yang menyatakan perbedaan kita dengan siswa SMA sederajat hanyalah masalah seragam. Karena bagaimana mungkin individu yang mempunyai masalah sebagaimana diatas bisa mengamalkan tri darma perguruan tinggi, terkhusus pada poin pengabdian masyarakat. Dan kita masih saja berkoar bahwa mahasiswa adalah agent of change, bertindak sebagai social control.

Secara akademis, kita larut dalam budaya masa SLTA yang membuat kita lalai memaknai peristiwa yang terjadi disekitar kita. Hal itu tidak terlepas dari belenggu system pendidikan yang kasarnya sudah bersifat otoriter. Dikatakan demikian karena kita para mahasiswa dibelenggu segudang tuntutan dan peraturan. Kegiatan yang diikuti seringkali hanya karena dimotivasi SKEK. Sehingga tujuan semestinya dari sebuah kegiatan menjadi amat langka untuk dicapai. Sekali lagi, kekuatan doktrin system telah membuat kita seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.

Dari segi budaya berorganisasi, kita para mahasiswa menyediakan diri untuk tidak kreatif. Dibuktikan dengan program kegiatan yang notabene mencontek para pendahulu kita. Tidak ada inovasi, dan sungguh, saya menilai kretivitas tidak hanya sekarat, ia telah mati di STAIN Batusangkar ini. Tidak adanya hasil kreativitas baru juga berefek rentan terhadap mental kita ketika berhadapan dengan teman-teman mahasiswa dari kampus yang berbeda, maupun ketika menghadapi tanya orang-orang sekitar kita.

Di sisi perpolitikan kitapun sangat pragmatis, memandang sebatas kegunaan saja, dan sungguh pemikiran yang demikian telah menciptakan pola interaksi yang kotor diantara kita. Pemikiran yang apabila sesuatu itu mempunyai kegunaan besar bagi kita, maka ia harus dimiliki, bagaimanapun prosesnya. Sejatinya, sudah berada di ranah politik praktis. Efek yang paling jelas dari hal tersebut adalah, kita menjadi komunitas yang terpecah belah, bukan dalam pengertian birokrasi tapi dalam pengertian sebenarnya.

Ranah agama adalah yang paling gampang untuk dijelaskan. Tak perlu melihat hasil penelitian yang kami lakukan. Berdasarkan semua yang telah disampaikan diatas, agama mana yang cocok dengan aktivitas kita? Nyatanya, tidak ada selain atheis, dimana agama dipisahkan dengan peradaban. Kenyataan yang terpampang bahwa agama telah dilembagakan dalam kehidupan kita. Kita secara personal menyenangi anggapan bahwa hanya kader LDK yang berada dalam kemestian untuk beribadah. Sementara itu kita bangga pada pencapaian yang tidak bertujuan.

Ideologi (isme-isme dewasa ini), mengalami krisis representasi dan legitimasi. Ideologi telah gagal merumuskan pemecahan atas krisis. Ideologi hanya melahirkan serangkaian luka maupun tragedi. Ia mandek dari fungsi awalnya sebagai pembebas. Ideologi dipahami, digali untuk sekedar mendongkel kekuasaan. Tidak untuk menghancurkan struktur penindasan itu sendiri. Sehingga kita dibayangi perubahan yang semakin nisbi kebaikannya.

Jika ada sebuah pertanyaan, bagaimana memberdayakan lembaga kemahasiswaan dalam membangun dinamika pergerakan yang bermarwah dan berimplikasi positif dalam aspek kehidupan mahasiswa (akademis dan kepribadian)? Jawabannya telah kita ketahui sebelumnya, yakni kesadaran diri baik secara individu maupun kelompok, meletakkan sesuatu pada tempatnya, saya sebut dengan kromosom adjustment, menyelesaikan apa yang akan terjadi kedepannya. Kita hanya perlu menyadari yang kita ketahui. Konsisten dengan ideology dan terima serta jalani fitrah kita sebagai insan pergerakan.

Saya pernah menulis, kesalahan terbesar dalam bertuhan adalah syirik, dan kesalahan terbesar dalam berorganisasi adalah fanatik. Karena itu saya mengajak sahabat semua, mari kita budayakan forum diskusi, sebuah jalan bagi kita itu untuk menemukan kebenaran bersama.

Izinkan saya mengakhiri tulisan pendek ini ini dengan mengutip tulisan Soe Hok Gie (And The Sixth Rider is The Fear) dalam Zaman Peralihan mengomentari tentang rasa takut, : ” Manusia, adalah apa yang dipikirkannya. Jika anda adalah seorang yang berani dan jujur, dan itu yang anda pikirkan, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya.”


Kamis, 03 Juni 2010

Mahasiswa Moral dan Politik

Umumnya predikat mahasiswa dipegang oleh individu yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Karena jumlah perseorangan mahasiswa sudah cukup untuk membuat populasi tertentu, maka sebagian orang juga mengatakan bahwa mahasiswa merupakan suatu entitas social tertentu. Value dari entitas ini adalah mereka yang telah menyelesaikan pendidikan dasar mereka dan memperoleh kemauan serta kesempatan untuk mendaftarkan diri sebagai pembelajar perguruan tinggi.

Angka yang sering muncul mengenai batas usia mahasiswa, adalah 18 (delapan belas) hingga 27 (dua puluh tujuh) tahun untuk mahasiswa strata 0 (nol) dan mahasiswa strata 1 (satu). Sejarah telah mencatat bahwa angka tersebut merupakan usia produktif pemuda. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa mahasiswa adalah perseorangan atau kumpulan pemuda pembelajar yang memiliki maksud serta tujuan tertentu dalam sesuatu perguruan tinggi tertentu.

Kata moral biasanya juga dibandingkan dengan istilah etika kemudian juga akhlak.. bila dilihat secara kasat, ketiga hal tersebut merupakan bentuk wujud ekspresi kedirian manusia dihadapan objek diluar manusia. Hal yang membedakan antara moral, etika dan akhlak terdapat pada objek luaran tersebut. Berbeda dengan etika yang han ya berlaku pada suatu komunitas tertentu saja, moral berlaku universal. Sebagai contoh, menyapa orang dengan tangan kiri tidak ada hubungan dengan moral, karena disebagian tempat lain boleh jadi lebih etis menyapa dengan tangan tangan kiri.

Moral berhubungan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Diaktakan tidak bermoral apabila perilaku individu atau kelompok tertentu menodai ilai-nilai kemanusiaan orang lain; seperti membuat gaduh, membunuh, berzina, dlsb.

Sedangkan untuk politik, sebagian orang mengatakan bahwa politik merupakan sni untuk memperoleh kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan, sebagian yang lainnya mengatakan bahwa politik adalah upaya yang dilakuakan oleh perseorangan atau kelompok yang mencoba untuk memasukkan sistim nilai tertentu pada suatu tatanan sosial tertentu dengan memegang alat kuasa. Sebagai missal, islam berkembang pesat di Indonesia dikarenakan penganjur agama islam menggunakan kerajaan untuk mengubah pola kepercayaan masyarakat, dengan begini para penganjur islam di Indonesia memanfaatkan media politik untuk berdakwah.

Adapun ketika kita berbicara tentang mahasiswa moral dan politik maka kita perlu menelaah kata-kata orang-orang besar berikut ini:
M. AS. Hikam dalam bukunya civil society menyatakan bahwa isu penting kenajuan bangsa ini kedepan adalah ketidakpedulian generasi muda akan politik, dalam buku itu juga ditampilkan hasil survey suatu majalah di Indonesia yang menyatakan suatu realitas bahwa hanya ada 10% pemuda yang memiliki kepedulian politik. Lalu salah seorang tokoh penting angkatan 66, Soe Hok Gie berargument, dunia politik adalah dunia yang paling kotor tetapi jika sudah tidak bisa mengelak lagi maka terjunlah!! Dan peran mahasiswa itu sendiri diserukan oleh ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) pada tahun 1922 yang pada saat itu dijabat oleh bung Hatta bahwa tidaklah bernama mahasiswa apabila tidak berdiri didepan menghadapi tantangan.

Adapun pertanyaan yang muncul hari ini adalah, apakah ada politik yang masih bermoral? Apakah mahasiswa harus masuk kancah politik? Bila tidak, kenapa? Bila ia, perpolitikan seperti apa? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang akan segera menyusul.

Sambil berpikir mari kita resapi sedikit sajak pakar fisika Richard P. Feyman berikut ini:
I wonder why I wonder why
I wonder why I wonder
I wonder why I wonder why
I wonder why I wonder
Aku bertanya-tanya mengapa. Aku bertanya-tanya mengapa.
Aku bertanya-tanya mengapa aku bertanya-tanya.
Aku bertanya-tanya mengapa aku bertanya-tanya mengapa.
Aku bertanya-tanya mengapa aku bertanya-tanya.

Billahittaufiq wal hidayah.

Senin, 15 Februari 2010

Siapa Punya Hitler??

1 Kebenaran = 1000 Kebohongan.
Hitler.

             •             •                     •                        •        


11. Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu."
12. Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi." Katakanlah: "Kepunyaan Allah." Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang[462]. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman[463].
13. dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang. dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
14. Katakanlah: "Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, Padahal Dia memberi Makan dan tidak memberi makan?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang musyrik."

[462] Maksudnya: Allah telah berjanji sebagai kemurahan-Nya akan melimpahkan rahmat kepada mahluk-Nya.
[463] Maksudnya: orang-orang yang tidak menggunakan akal-fikirannya, tidak mau beriman.



Siapa yang hendak menentang kebenaran yang dipersembahkan oleh pembohong besar ini? Sebuah kalimat yang dimasyurkan kekejaman, dusta, dan kediktatoran. Kata-kata yang tercipta dalam kehendak yang mesti, kehendak akan kekuasaan sebagai sesuatu yang sangat manusiawi.
Ratusan ribu kepala yang membeli status mahasiswa di negara Indonesia tercinta ini, namun situasi bertanya: berapa kepala yang layak jadi pembeli dengan predikat pantas? Pertanyaan ini muncul berbarengan dengan merebaknya gaya hidup hedonis akut, sebuah penyakit yang menindas pola pikir mahasiswa dan menenggelamkannya didasar yang dilarang untuk disentuh, kita kenal dasar ini dengan nama “ketidaktahuan akan siapa dirinya” dan menciptakan ketakutan yang melahirkan produk manusia-manusia apatis. Pertanyaan tersebut dipersembahkan untuk Anda, sudahkah Anda jawab?
Para apatis ini kemudian jadi target yang gampang dibidik, diatur dan dimanfaatkan. Karna mereka memang tak tahu dan tak peduli. Mungkin salah satu yang disebut apatis bukan Anda yang berada didepan kertas ini! Kita memang tak pernah tahu siapa yang merasa.
Lalu siapa yang membidik, mengatur dan memanfaatkan? Jawaban yang sama dengan isi kepala Anda, salah satunya yaitu mereka yang merasa Anda adalah sasarannya. Mereka yang punya naluri senada dengan Hitler. Namun pertanyaan terpenting sebenarnya adalah “apakah Anda merasa”? Jika Anda merasa, Anda tentu tahu siapa Hitler yang memeras hak Anda. Jika tidak terasa, maka mulailah merasa.
Teman, setiap waktu dan tempat ada pahlawannya, pelaut yang ulung tidak lahir dilaut yang tenang. Setiap pendakian pasti ada penurunan, bermimpi, action , tawakal dan berdoa.

Jumat, 12 Februari 2010

Valentina Day, kita kah???

Di awali dari sejarahnya…..
Banyak versi yang menerangkan asal muasal VD. Versi Pertama, VD adalah sebuah tanggal untuk mengenang tokoh Kristen bernama Santa Valentine yang tewas sebagai martir, ia hukum mati dengan cara dipukuli dan dipenggal kepalanya pada tanggal 14 Februari 270 M oleh Kaisar Romawi yaitu Raja Cladius II (268-270). Versi Kedua, VD adalah sebuah tanggal untuk untuk menghormati Dewi Juno yang dikenal dengan Dewi perempuan dan perkawinan, adalah suatu kepercaayaan bangsa Romawi Kuno bahwa Dewi Juno adalah Ratu dari Dewa dan Dewi bangsa Romawi. Kemudian diikuti oleh hari sesudahnya yaitu tanggal 15 Februari sebagai Perayaan Lupercalia yakni sebuah upacara pensucian serta memohon perlindungan kepada Dewa Lupercalia dari gangguan Srigala dan ganguan-ganguan lainnya. Versi Ketiga, Ken Sweiger dalam artikel "Should Biblical Christian Observe It?" mengatakan bahwa kata "Valentine" adalah berasal dari kata Latin yang memiliki arti : "Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa" yang ditujukan kepada Tuhan orang Romawi yaitu Nimrod dan Lupercus. Nah sekarang coba anda fikirkan apabila anda mengatakan "to be my Valentine" ini berarti anda memintanya menjadi "Sang Maha Kuasa" sesuatu yang sangat berlebihan sekali.
Bagaimana dengan kita……
Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikiran. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi'ar dan kebiasaan. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, artinya,
"Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." (HR. At-
Tirmidzi).

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, "Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, "Selamat hari raya!" dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah subhanahu wata?ala. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah subhanahu wata?ala dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid'ah atau kekufuran. Padahal dengan itu ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah subhanahu wata’ala."
Terus Gimana Duwnk…..
Firman Allah swt.: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Sesungguhnya orang mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paing bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal." (Q.S. al-Hujurat:13).
Nabi Saw., bersabda : "Cintailah manusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri." (H.R. Bukhari). Islam sangat melarang keras untuk saling membenci dan bermusuhan, namun sangat menjunjung tinggi akan arti kasih sayang terhadap umat manusia. Rasulullah saw. bersabda : "Janganlah kamu saling membenci, berdengki-dengkian, saling berpalingan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Juga tidak dibolehkan seorang muslim meninggalkan (tidak bertegur sapa) terhadap sudaranya lewat tiga hari" HR. Muslim.
  • Seorang muslim dilarang untuk meniru-niru kebiasan orang-orang di luar Islam, apalagi jika yang ditiru adalah sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan, pemikiran dan adat kebiasaan mereka.
  • Bahwa mengucapkan selamat terhadap acara kekufuran adalah lebih besar dosanya dari pada mengucapkan selamat kepada kemaksiatan seperti meminum minuman keras dan sebagainya.
  • Haram hukumnya umat Islam ikut merayakan Hari Raya orang-orang di luar Islam.
  • Valentine's Day adalah Hari Raya di luar Islam untuk memperingati pendeta St. Valentin yang dihukum mati karena menentang Kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda. Oleh karena itu tidak boleh ummat Islam memperingati hari Valentin's tersebut.( dari berbagai sumber )

Jumat, 08 Januari 2010

ZEIT GEIST


Kita telah berjalan pada denah akademika, tentu saja akademika bukanlah sesuatu yang luar biasa sekalipun ia cukup tenar sebagai media aufklarung dalam regenerasi. Wajar sebenarnya jika mahasiswa hari ini dikenal sebagai “makhluk apa adanya”. Tak ada yang perlu disesali karna tak ada suatu realita yang telah diusahakan untuk sebuah penyesalan.

Zeit geist bukanlah sesuatu yang bisa dipancing, ia mestilah hadir dengan sendirinya karna ia punya cangkang dimasing-masing kita. Ada yang cangkangnya rapuh sehingga ia cepat keluar menampakkan zeit di geistnya, dan ada yang cangkangnya (dianggap) tercipta dari baja sehingga anggukan dibanggakan sebagai persetujuan “amin” pada apa yang Soe Hok Gie sebut kesewenangan atau lebih keras lagi, kemunafikan para tiran.

Ayolah teman, teriakan hanya sampai didaun telinga, takkan sudi ia menjangkau adrenalin yang dipingit cangkang baja. Merasa aktivis baik, luar biasa mungkin, dan tentu saja ketika mengajak seluruh umat jadi aktivis (sekalipun bisa), apakah takkan mengubah keseimbangan dunia? Terimalah, tak mesti seluruh umat jadi penjual karna akan melenyapkan pembeli dan memaksa terjadinya inflasi. Dunia aktifis memang bukan jual beli, tapi berprinsip yang senada diserat yang lebih eksplisit.