Arif Rahman

Penulis Buku : "Ketika Udara Terjungkir Di Bawah Langit Bumi.

Arif Rahman

Jasa Ghost Writer Professional.

Arif Rahman

Arif Rahman dan yulia Diana.

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 April 2012

Sangat, Belum Bernama


Degup figurmu membuncah, lebih tajam dari kikisan sembilu menyerpih tulang.
Menanya jarak meraba sisik udara berpisau dingin.
Menyentuh taman bunga yang kau sendiri tau.
Dan kematian tak tergugah.
Disela ayat Qur’an yang dinyanyikan ibu bersama tangisan.

Sabtu, 17 Maret 2012

Semarak Runtuh


Tuhan, aku rela mati malam ini,
membawa dosa-dosa dan kekecewaan.

Dengan yang Engkau sebut kelemahan makhluk,
ini hambaMu yang berputus asa.

Rabu, 07 Maret 2012

Batas Kehendak Tersenyum

(PG only)

Jari-jariku sedang lemah menginjak tuts komputer, mataku juga. Bukan mengenai ketidaksediaanku, aku sadar sampai batas mana kehendak berniat mengalihkan tempat. Jika mataku terpejam waktu itu juga, sebab kantuk yang semakin ringkih setelah usapan angin diantara bumi dan bulan, jangan kecewa.

Minggu, 19 Februari 2012

Luruh


Kesalku menandukkan suara pada debu galaksi.
Ia mengaduh atas tusukan benang kusut di pelipis jiwa yang rapuh.
Berdarah airmata.

Bu, tulang rusukku tlah lama menyelam
Hingga bernapas terasa sakit.

Aku mau Bu,
Hingga kucari obat pada senyummu.

14/02/12



Jumat, 13 Januari 2012

Maaf Bu

Teruntuk Ibu yang Memperkecil Dunia Demi Anaknya
Ibu, izinkan aku menangis cengeng lagi di usia ini.
Karna aku-kita, tak bisa lagi mendengar tegur keras bapak.
Kita rindu kan bu?

Bu, izinkan aku menangis keras dan terisak.
Karna aku memang tak sekuat yang mereka kira.
Aku anakmu, manusia biasa juga.
Beri aku pelukan bu.
Aku sungguh ingin bertemu bapak.

Apa disana bapak melihatku sholat bu?
Tersenyumkah ia?
Dulu bapak bilang,
ia ingin melihatku menjadi anak sholeh.

Apa aku nakal bu?
Apakah sering membuat ibu sedih?
Jika ia, aku takut bapak marah.
Kalau sudah demikian, ibu tentu lebih sedih lagi.

Ma'af bu...
Ma'af untuk durhaka yang tak sengaja.
Ma'af karna lalai menjaga hatimu.

10 Januari 2012 pukul 0:17



Kamis, 17 November 2011

Maaf




Tentang kekesalan banyak pria pada dirinya.


Aku tak lagi mencintaimu dengan sederhana,,
ini komplikasi mutlak!!

Bahkan lebih sistemik dari efek bank Century.

Sayang,,
pernikahan kita dihalangi inflasi didasar saku.

Ma'af, Humaira...


Koto Nan Ampek, 01 September 2011

Ko Nan Cinta Tu Haa!!


Aku tak ingin menjadi pelangi,
yang hanya menampakkan diri setelah deru hujan.

Aku juga tak ingin menjadi matahari,
yang hanya menerangi sepanjang siang.

Pun aku tak mau menjadi bulan,
yang hanya membatas gelap saat malam datang.

Aku hanya bersedia menjadi waktu,
yang setia menunggu,
yang menemani tanpa henti.

24 Oktober 2011

Kamis, 06 Oktober 2011

Pesan Cinta Untuk Hatimu


Wanita, rindu berharap akan senyum tulus.
Tapi bibirmu terlalu jauh.
Mata hanya bisa melampiaskan pada warna-warna kaku.

Kau tau, seringkali airmata mengiringi dengan sopan.
Agar kau datang lebih cepat, supaya aku mengejarmu lebih kencang.
Meski kau tak pernah lari.

Pria sepertiku tak terlalu nyaman menunggu sampai malam datang.
Bahkan saat tak cukup banyak yang nyata.
Kau tau itu.

Mataku tak akan ringkih meski lama menunggu.
Baginya itu stasiun untuk rindu yang lebih bermakna.
Cinta hanya khawatir saat kau terlalu jauh.

Cinta hanya khawatir saat kau terlalu jauh.





Kau merasakannya lebih baik dari yang kutulis, aku tau.

Rabu, 03 Agustus 2011

Tentang Cinta



Are you loving enough?


There is some one dear,
Some one you hold as the dearest of all
In the holiest shrine of your heart.
Are you making it known? Is the truth of it clear
To the one you love? If death's quick call
Should suddenly tear you apart,
Leaving no time for a long farewell,
Would you feel you had nothing to tell---
Nothing you wished you had said before
The closing of that dark door?

Love till Death




HOW Could I Love You More? 

I would give up
Even that beauty I have loved too well
That I might love you better.
Alas, how poor the gifts that lovers give�
I can but give you of my flesh and strength,
I can but give you these few passing days
And passionate words that, since our speech began,
All lovers whisper in all ladies' ears.

I try to think of some one lovely gift
No lover yet in all the world has found;
I think: If the cold sombre gods
Were hot with love as I am
Could they not endow you with a star
And fix bright youth for ever in your limbs?
Could they not give you all things that I lack?

You should have loved a god; I am but dust.
Yet no god loves as loves this poor frail dust. 

~ Richard Aldington

Selasa, 26 Juli 2011

Yang Kumohon

Kisahkan padaku tentang malam itu,

saat bulan sabit tlah penuh,

dan pengertian tak lagi butuh kata-kata.

Jabarkan realitanya pada perut kalbuku yang memburai,

bagai garam ditabur untuk penyempurna rasa dimasakanmu.

Tolong, penuhi lagi kali ini, aku tak ingin menyimpan abu.

Dan dari matamu kekasih,  jangan lagi menikamku.

Jantungku tlah banjir oleh darah,

dan tikamanmu memaksaku untuk membalas.

Kita nikmati saja hari ini dengan tawa.

Agar tuhan tak marah pada hati yang terbakar.

Selasa, 07 Juni 2011

Dengan Lembut, Sayang . . .


Aku mencintaimu dengan mencipta sejarah.
Bersama batas kesabaran yang tak pernah mampu kupertahankan sebelumnya, sebelum mengenalmu.
Akupun hanya mampu menyuarakan kesal sampai di dinding bari.
Karna saat ia menembusnya, kau akan lebih tersakiti.

Maafkan juga aku untuk cinta yang sulit kau pahami.
Karna aku tak menemukan kata yang mampu menjelaskan kepadamu.

Aku bangun setiap malam untuk menciptakan keindahan dengan imajinasi yang kau sebut terlalu tinggi.
Mungkin, tapi tak setinggi romeo dalam novelnya Shakespeare.
Juga tak semewah cintanya Malin Kundang dalam dongeng yang di ceritakan nenek kita.

Hanya keindahan saat kau membuatku merasa seutuhnya sebagai lelaki,
dan aku pecinta satu-satunya untuk kewanitaanmu.

Dengan lembut, semesra hembusan angin untuk gemerisik daun.


                                        08 Juni 2011

Sabtu, 04 Juni 2011

Suasanaku

                                                                                                         (Dedicated for you; Sistha)




Suasanaku:

Aku rela bias bersama sinar bulan,

setelah kami pudar malam bagi pejalan kaki.

Sayang aku tak rela jika matahari sebagai sebabnya.


Aku sedang bersedih, tapi kuharap kamu tidak.

Aku sedang marah, semoga kamu tidak.

Aku sedang tak enak hati, dan mudah-mudahan kamu tidak.


Bawalah kesedihan dan keluh kesahmu dalam tidurmu.

Dan campakkanlah ia disana,,dan bangunlah esoknya dg sebuah tawa dan kebahagiaan kakaqq...

:-)

Tawamu adalah tawaku,,

Sedihmu juga sedihku...

# jangan sedih lagi y kkaq,,cepat tersenyum kembali spt dirimuuu.,
^-^

Terimakasih untuk sentuhan rasa dikata-katamu.


Terasa lebih mending dari sebelumnya.




Rabu, 06 April 2011

Egoiskah Aku Untukmu?

Bukankah aku selalu berusaha melembutkan hatimu setiap kali ia mengeras seperti batu? Ya, kau selalu ada untukku, sesuatu yang tak bisa kutandingi saat ini. Tapi nanti, setelah diletakkan seuatu itu pada tempatnya, akupun akan selalu ada untukmu, begitupun kau padaku. Aku juga akan selalu berusaha melembutkan hatimu setiap kali ia mulai mengeras seperti batu. Hanya satu yang tak berubah. Aku, hanya aku yang berusaha melunakkan hatiku sendiri, menahan getirku sendiri.

Aku tau kau tak akan mengendurkan keegoisanmu. Kau lebih memilih terluka daripada menurunkan sedikit saja egomu. Dan kau siap berkilah agar egomu tetap diatas. Yaa Tuhan, bagaimana mungkin aku bisa mencintai wanita sepertinya. Ini cinta yang diluar nalar.

Sudahlah, mungkin hanya lelaki yang tak pernah kehabisan kesabarannya yang sempurna untukmu.

Jumat, 07 Januari 2011

Pancasilaku

Bintangmu tak lagi bercahaya,
hanya redup.

Pancasilaku, kenapa beringinmu tak lagi kokoh,
mulai condong.

Rantaimu tak lagi kekar,
membayangkan keretakan.

Pancasilaku, kenapa padi dan kapas tak lagi melimpah?
Mungkin disantap hama tak berasa.

Kepala bantengmu tak lagi meradang,
hanya terpajang.

Garudaku,
sayapmu tlah patah,
tak diobati sehingga tak lagi terbang tinggi.

Garudaku, ahh Garudaku…
Kau tlah terkapar.
Semangat kilat matamu dianggap berlalu.

Garudaku, Garuda Pancasila.
Pita yang kau genggam kehilangan makna,
dan patukanmu tak lagi berbekas sukma.

Oo Garuda Pancasila,
sayang merah tak lagi merangsang,
dan putih terlampau kaku.
                                                            Padang Japang, 06 September 2004

Pancaran Cinta


Simaklah suara desir angin di samudera angkasa,
tiap hening melebur dunia.

Maka kan kau saksikan agungnya cinta.
Bukan sekedar koar indah kata
Selalu disepuh tulus dan canda.

Andai kau bisa meresapi siratnya dibari,
mungkin sedikit kan ngerti.
Pegasus tak pernah sanggup mengejarnya.

Cinta selalu melampiaskan ceria,
selalu pula disilang-seling duga.
Tak beda dari debu di jala laba-laba.

Pancaran cinta adalah pukau rasa,
dilengkapi cemburu dan belai mesra.
Bukan sekedar make-up pemanis.
Bukan pula sebab sedih menangis.

Pancaran cinta adalah kuda astral,
berlari dalam kancah murka dan renjana.
Menggali benih batang afeksi,
Aplikasi naluri dua jiwa.
Penyatu antara hidup dengan masa.

                 02 Januari 2005

Sehingga Demokrasi Sekarat


Pekik demokrasi semakin tajam menyepuh langit.
Menyuarakan khayal yang tlah kusam
dihimpit beban zaman.
Sehingga kita hanya bisa mencicipi demokrasi
yang dalam keadaan sakratul
Sebab nilai kejujuran telah sangat
kintir…

fatamorgana semakin seksi melepas kemanusiaan.
Karena kemanusiaan juga telah bugil
untuk syurga sesaat.
Sehingga kami hanya bisa mendendangkan ironi,
siksaan.

Tuan-tuan penguasa,
Telah menina bobokan jenazah perjuangan dalam sepi daka,
Dan malah menginfakkan kanopi-kanopi sayatan panjang,
ke inti sanubari kami.

Sehingga berontak mendidih diubun-ubun kami!
Sehingga kebrutalan jadi pakaian dalam
yang jarang dicuci.

                                                                                    14 Desember 2004

Harapku Padamu

Dirimu tlah kulukis dalam jemala ubun-ubunku.
Kuukir ditengah khasanah kalbu.
Mencipta tugu cinta
kokoh didasar bariku.

Dinda…

Kaulah puspa kencana,
Kekar berkuasa dalam jiwa.
Kutertarik sembrani cintamu,
dan terjerat dalam indahnya
loka percintaan.

Dinda…

Rentangkanlah satu celah,
Tak tertanggungkan keganasan rajam dewi kasih
yang membanting dikarang duka.
Pedih,
Dipalang ke tak kuasaan rasa.

Kesatria Perang

Kesatria Perang

Tingkah bahana letusan meriam dan senapan.
diseling dencing senjata tajam,
dan sering pula terdengar jerit luka kematian.
Sejuta keperihan dan jerit kesakitan.
Bunga api muncrat menghias.

Sekali durjana diatas,
akan dating durjana itu tertindas,
selama-lamanya.

Gegap gempitalah sorak kemenangan,
Lalu sunyi.
Korban kemerdekaan diam damai,
dalam hamparan tanah,
ditutup darah merah mereka.
Ribuan pahlawan yang gugur,
dicatat sejarah sepanjang masa.

                                                                              Padang Japang, 26 Januari 2004

Senin, 25 Oktober 2010

SURAT PENSIUN AKTIVIS

Sampaikanlah senyuman airmata

Saat kami ambruk rubuh berselimut darah merah perjuangan

(merah yang mekar didalam)

Terkapar sejengkal dari zona angan

Sampaikanlah tawa penyesalan pada bunda tercinta

Bukan karena darah yang jadi kain kafan

Tapi karena kita tak bisa lagi bersama-sama mengimpikan revitalisasi

Setelah mendengar revolusi dan dan menikmati reformasi.

Kirimkan salam rindu airmata pada kekasihku tercinta

Carilah sarang baru untuk cincin kawin yang kau titip untukku


Terakhir, sampaikanlah maafku pada ibu pertiwi

Asa tlah dipapah keluar dari jasadku

Lewat senyuman batu-batu kecurangan, amunisi dan pentungan


Kami tlah terkapar diujung kerasnya tombak keserakahan

Tapi tak apa, karena asa akan selalu bertubuh baru.

Karena aku tlah sampaikan senyuman airmata pada ibu pertiwi

Tawa penyesalan untuk bunda tercinta, bahkan juga salam

Rindu airmata, serta cincin kawin kekasih tercinta.


Terakhir tlah kusampaikan maaf pada ibu pertiwi karena asa tlah dipapah keluar dari jasadku

lewat senyuman batu-batu kecurangan, amunisi dan pentungan.

13 November 2008