Senin, 12 Maret 2012

Baik Yang Ada Tapinya

Langkah-langkah bergegas, seakan hari esok adalah kemustahilan. Waktu terasa begitu cepat sekalipun lama detik tak pernah berubah, jumlah menit dan jam selalu sama. Bayang ember hati akan segera terpenuhi membuat raga berikhtiar melewati persen seratus, memastikan kejayaan sebelum finish itu sebenarnya faktor yang paling penting. Besar raihan itu serahkan rela-rela pada Yang Maha Kuasa.



Waktu terbaik adalah pulang, menempuh jalan biasa sambil berkhayal gurau inisiator senyum saat sampai, tawa lebih baik. Tanda inisiatornya orang hebat. Oo, mencicipi masakan Bunda adalah masa yang selalu hebat, mengekalkan rindu saat jauh dan pemanis sempurna keindahan pulang. Bagiku, sesederhana itu arti memiliki dengan cita luarbiasa.

Dulu, sebelum Indonesia kita merdeka, orang-orang baik berjuang untuk kebebasan. Dulu, agar anaknya memiliki tempat pulang yang nyaman, orangtua kita berkeringat sampai ke alam mimpi. Dulu, waktu kita ingin punya sesuatu, uang jajan mesti ikhlas dipangkas buat mengisi perut celengan ayam (yaa, boleh juga kalo dulu punya yang bentuk drum, tas, sapi, dlsb). Semua bertujuan baik, 'tapi' waktu maksud diraih rasanya rupiah selalu kekurangan angka untuk menilai. Tanyalah yang sudah berpengalaman jika ia orang lain, kalau diri sendiri, periksalah kehati.

Maksud baik tak pernah tercapai dengan pembiaran, "tapi" usaha. Besaran target tergantung besaran usaha.

*Ngomong ama diri sendiri;
Andai hari ini masih belum nyaman sayang, tawa nyata dihari esok kita jadikan pengganti dengan usaha merubah ketidaknyamanan hari ini, sampai nanti-nanti. Akupun tak mau "susah" selamanya.

11/03/2012


0 komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda sangat diharapkan.
Atas komentar yang Anda berikan, Kami ucapkan Terimakasih.
Bersama Kita berpikir untuk INDONESIA dan DUNIA.