Selasa, 26 Juli 2011

Wilayah Otonom Kecilku

Aku kembali berada di wilayah otonom kecilku. Sebuah ruangan tiga kali empat dengan sebuah spanduk berwarna hijau terang dan berlogo PII (Pelajar Islam Indonesia) yang menutupi salah satu sisinya. Ada kilasan merah putih disana. Itu hal pertama yang aku selalu ingin saksikan, setiap kali aku sampai. Dan ia selalu jadi wadah yang cukup sabar menerima kerinduanku. Gambar buku dan penera di lambang itu mempunyai daya inosi yang kuat terhadap keserakahanku membaca, dan mengawal kompetensi keteguhan hatiku dalam menulis.

Di sisi yang berseberangan ada telfon gantung dan tempat bertapa dari sumber wawasan yang mempengaruhi pola pikirku, tentunya setiap ruhaniku selesai minum isinya. Owh, kau ingin sebutannya yang keren? Sebut saja Yakult pikiran, terdengar nikmat dan bergizi. Kau bisa temukan kitab (yang suci dan tak suci), perjuangan, bahasa, sosialisme, komunisme, kebaikan dan keburukan disana. Lebarnya ± 30 cm yang panjangnya sekitar tiga meter dengan ketinggian seratus lima puluh senti meter dari permukaan lantai. Dibawahnya tersedia tempat gantungan dari stainless untuk benda-benda yang kuanggap unik. Sisi itu adalah sisi keramat, tak satupun manusia boleh menyentuhnya tanpa seizinku. Adikku pun tak berani. Begitu juga harusnya kau!

Pada sisi yang sama dengan pintu ada gantungan baju, sebuah alat yang memutus dan meneruskan arus listrik untuk menjadi cahaya, dan sumber setruman untuk membangkitkan alat ketik ini dari masa non-fungsionalnya. Dan ya, disisi itu juga ada tatahan, kufungsikan sebagai tempat aman untuk waktu senggang dompetku, handphone, minuman, dan benda-benda kecil yang sewaktu-waktu kubutuhkan jika hendak melakukan perjalanan. Mulai dari perjalanan fisik yang mempertanyakan energi, boleh juga perjalanan imajinatif menguras imajinasi, dan perjalanan dialektika menembus tesis sintesis dengan perlawanan antitesis untuk mencari sintesis baru dan mendapatkan ide absolut. Atau perjalanan logis dalam sistem sains, “thinking of thinking”.

Sisi terakhir, masih kubiarkan apa adanya. Aku berencana membongkarnya dan menambahkan jendela, sudah kurencanakan sejak lama agar sirkulasi udara bisa mengurangi kepengapan bagi orang-orang selainku yang beruntung mendapat kesempatan untuk ada disini, namun bisa dibilang aku juga yang membuatnya belum terealisasi. Sensorismu akan menjelaskan semua hal tersebut sifatnya atrutik dan tentatif. Jangan khawatir, ia menjelaskan untuk tingkat tertinggi dari pemahamanmu. Jika kau tak percaya, aku akan coba jelaskan.

Yang datang pada kawasan logis akan membuat otakmu melakukan analisa untuk memeriksa kelogisannya. Hal yang berkunjung secara abstrak akan mempekerjakan benakmu guna menemukan kejelasannya. Tapi apapun yang datang melalui perasaan, kau akan selalu merasa tak perlu bertanya. Bahkan saat kau sendiri tak mampu menjelaskan yang kau pahami.

Itu juga sebabnya, jika kau ingin memahamiku, pahami dengan perasaanmu. Karna setiap hal yang bernuansa logis, tidak akan pernah berhenti mencari kesalahan. Jika itu (mencari kesalahan) terjadi, maka insting manusiawi yang disalahkan reflek akan melakukan usaha defensif yang biasanya berupa expository (yang sifatnya membeberkan atau menerangkan). Lalu logisme kembali mengajukan kesalahan untuk direspon sama (seperti yang saya jelaskan) oleh yang menjadi terdakwanya. Sebuah proses panjang untuk bisa berhenti. Dan itu akan membuat kita jauh satu sama lain, menjauhkan antara kau dan aku. Memperlebar spasi antara hatiku dan hatimu. Kalau boleh kasar, izinkan aku mengatakan “sangat tidak sosialisme”.

Pahami dengan perasaan, jika yang kau cari itu “damai untuk semua”.

Wilayah otonomiku punya langit dari triplek berwarna krem kecoklatan, dibawahnya pada bagian sudut yang mempertemukan sisi yang memiliki pintu dan sisi yang ditutupi spanduk, ada kapas yang dikemas dalam kain sepanjang dua meter dan lebar satu meter. Namanya kasur, kalau kau susah menerjemahkan maksudku. Dan diatas kasur ada satu selimut berwarna merah, dua bantal biasa, dan satu bantal guling. Sengaja si kasur kuletakkan di sudut itu, biar aku dekat dekat dengan warna hijau terang yang kusuka. Dan wow, kutemukan kalimatnya, mari memahami seperti pemahamanmu kenapa kau suka warna kesukaanmu. Itu kalimatku, kalau kau pakai maka harus kau sebut namaku sebagai penemunya, heheh.




0 komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda sangat diharapkan.
Atas komentar yang Anda berikan, Kami ucapkan Terimakasih.
Bersama Kita berpikir untuk INDONESIA dan DUNIA.