Jumat, 17 Juni 2011

Peranan Otak Manusia Terhadap Pemerolehan Bahasa.

Disini akan dibahas kaitan antara otak manusia dengan bahasa. Betapa besar peranan otak kita dalam pemerolehan, pemahaman dan pemakaian bahasa. Proses bahasa itu dimulai dari enkode Semantik, enkode Gramatikan, dan enkode Fonologi, lalu dilanjutkan dengan dekode Fonologi, dekode Gramatikal, dan diakhiri dengan dekode Semantik. Semua proses ini dikendalikan oleh otak yang merupakan alat pengatur dan pengendali gerak semua aktifitas manusia (Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik 2003).

a.Hipotese Umur Kritis menurut Lenneberg dengan teorinya Hipotese Umur Kritis (Crytical Age Hypotesis), dikatakan bahwa seorang anak yang berumur dibawah belasan tahun, minimum 12 tahun akan dapat memperoleh bahasa manapun dengan kemampuan seorang penutur asli (Lenneberg, 1967). Otak manusia mempunyai Hemisfer 2 buah, Hemisfer kiri dan kanan, kedua-duanya di kendalikan oleh Korpus Kalosum. Pada umur dibawah belasan proses literalisasi belum terjadi (lenneberg),
1967) namun Krashen menyanggahnya dan mengatakan bahwa pada umur 4-5 tahun proses literalisasi ini sudah terjadi.

b.Kekidalan (left-handed) dam kekinanan (right-handed)Ada orang yang kidal dan ada juga yang kinan, bahkan ada pula yang dapat menggunakan kedua tangannya secara berimbang (ambidextrous) disebut ambidektrus. Disebutkan bahwa Hemisfer kiri adalah sebagai Hemisfer dominan bagi bahasa, sedangkan Hemisfer kanan untuk emosi, lagu, isyarat baik yang emosional maupun yang verbal. Berdasarkan penelitian bahwasanya bagian depan dari otak kita tidak mempengaruhi seseorang untuk berbicara dengan baik dan benar, namun bagian kepala yang disebut dengan Medan Broce (Broca)-lah yang memiliki peranan penting dalam berbahasa. Yang terjadi dalam masyarakat kita adalah sesuatu yang buruk itu berasal dari kiri. Hal ini sudah menjadi budaya. Namun masalah kekidalan adalah semata-mata masalah genetik, namun belum ada penelitian yang menyatakan bahwa terdapat dampak dari pemaksaan memakai tangan kanan. Adakah hubungannya antara kekidalan dan kekinanan dengan kemampuan intelektual? Hal ini masih menjadi perdebatan.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar Anda sangat diharapkan.
Atas komentar yang Anda berikan, Kami ucapkan Terimakasih.
Bersama Kita berpikir untuk INDONESIA dan DUNIA.